Strategi Konsep dalam Menciptakan Karikatur

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , on April 20, 2009 by enikkirei

Konsep isi
Content/isi haruslah masalah tema/isyu-isyu yang paling actual, sebab kalau kejadiannya sudah lampau/out of date, maka karikatur akan kehilangan efektivitas dan daya gunanya. Ibarat sayur sop yang sudah basi, di samping kehilangan nutrisi dan tidak enak dimakan, tapi mungkin juga bisa beracun membahayakan kesehatan.
Semua persoalan hidup, baik lingkup kecil (keluarga) hingga yang paling besar (internasional), berpeluang untuk jadi tema karikatur, sepanjang itu bermanfaat bagi banyak orang, asal bukan gossip-gosip murahan yang tak berdasar nalar/akal sehat, apalagi provokasi, fitnah dan semacamnya.

Konsep bentuk visual
Dari bentuk/wujud yang kasat mata inilah pesan karikatur dapat tersampaikan pada pembacanya. Untuk itulah seorang karikaturis sangat mengandalkan kemampuan menggambar nya yang prima. Gambar karikatur biasanya disajikan/diungkapkan melewati pengubahan bentuk. Ini amat lazim terjadi.
Beberapa metoda pengubahan/pengolahan bentuk, antara lain:
- Distorsi — mengubah bentuk secara ilusi optis
- Deformasi — ‘merusak’ bentuk
- Stilisasi — menyederhanakan bentuk
- Dramatisasi — mengungkapkan bentuk secara dramatis, bisa membuat pengekstriman, exaggeration (melebih-lebihkan bentuk)
- Simbolisasi — memanfaatkan bentuk sebagai simbol-simbol
- Metaforik — memanfaatkan bentuk sebagai kiasan
- Semiotika — menggunakan bahasa tanda (pesan singkat dan ringkas seperti pada rambu-rambu lalu lintas, misalnya)
- Personifikasi — menggunakan benda-benda mati yang berperan sebagai layaknya manusia, atau sebaliknya.
- Fabel — sda, benda-benda matinya diganti dengan binatang.
- Figure — penokohan, setiap karya karikatur biasanya mengekspose suatu tokoh, ini bisa manusia, ataupun nonmanusia. Bahkan pengertian/konsep yang abstrak (misalkan pendidikan atau ketidakpedulian) bisa diungkap menjadi tokoh yang riel/nyata.
- Naïve — pengunkapan tokoh-tokoh dengan kesan sok bodoh, bloon, naïf atau kekanak-kanakan dan segala bentuk kejenakaan.

Konsep apropriasi/kepantasan
Kita harus memahami bahwa karya yang kita buat harus siap bersentuhan, bahkan mungkin berinteraksi dengan public. Kita akan berhadapan dengan pribadi-probadi atau komunitas tertentu yang harus kita pahami karakternya. Kalau kita mengkritik, konsekwensinya kita harus siap dengan reaksi siterkritik. Untuk itu, parameternya adalah sejumlah pertanyaan kesiapan yang harus anda jawab secara jujur, dan hanya anda sendiri yang tahu jawabannya:
- Seberapa jauh akibat-akibat kritik itu bisa anda prediksi?
- Seberapa cakap/siap mental anda menangkis serangan-serangan bila ada reaksi yang berbalik menuntut kita?
- Seberapa besar nyali yang mendorong kita untuk berani mengungkap ketidakberesan yang terjadi?
- Seberapa tajam sensitivitas anda pada dimensi ruang dan waktu?
- Seberapa obyektif interpretasi anda terhadap suatu persoalan actual yang akan anda ekspose, jangan-jangan ada hanya dikuasai perasaan sentiment pribadi, kecemburuan atau bahkan paranoid?

Karikatur Pembagian BLT

Karikatur Pembagian BLT

Bagi Karies “customer”…mohon dibaca!!

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , on April 20, 2009 by enikkirei

Maksa banget judulnya yaa??…hehe!:-D Jika kamu termasuk pada kategori ‘sering’ menderita karies, alias gigi berlubang seperti aku, ada baiknya kamu menyimak tulisan singkat berikut ini!;-)

Chubby mendadak gara2 lubang di dalam gigi, bisa dikatakan “aku telah menjadi pelanggan setia”, sejak remaja hingga dewasa kini karena memang penyakit ini dapat menyerang segala usia. Bila kita telaah lebih lanjut, karies bukan hanya sekedar chubby2-an :-D (eh, serius dikit napa seh?!!)…Yup, karies merupakan suatu penyakit yang menyerang jaringan gigi ‘hard’, seperti lapisan gigi terluar (email) dan dentin. Nah, ‘bolong’-nya sang gigi ini diawali dengan sebuah proses yang – dalam istilah kedokteran gigi – disebut “demineralisasi komponen anorganik gigi” yang kemudian berbuntut pada binasa-nya matriks organik gigi.

Kok bisa karies sich?!!…tenang bro, namanya juga penyakit, tentu saja ada sebab-musabab alias faktor2 yang melatarbelakanginya!:-) empat faktor utama tersebut yakni: gigi, waktu, mikroorganisme (khususnya dari genus streptococcus mutans dan lactobacillus) serta lingkungan (substat). Interaksi di antara keempat faktor tersebut-lah yang menyebabkan terjadinya karies. Kalo gak ada interaksi?..ya syukur deh, berarti gak jadi kena ‘bor’ gigi kamu, hehehehe!!:-D

Kariesasi (hehe, asal comot imbuhan..pak Badudu, bener gak neh?!!:-D) alias proses terjadinya karies, bermula sejak adanya plak yang menempel di permukaan gigi. Menempelnya plak = menempelnya bakteri dan gula sisa makanan pada tempo tertentu. Kelak zat-zat ini akan berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (sekitar pH 5,5). Nah, inilah yang menyebabkan – sebagaimana yang kusebutkan sebelumnya – sebagai demineralisasi email, yang akan berlanjut pada karies gigi.

Huhuhu, syerem yah??!!!…:-( Apalagi jika karies ini terjadi pada adek2 or anak balita kamu, biasanya berupa kerusakan gigi yang parah pada mayoritas giginya. Apa sebabnya? Ternyata inilah akibat pemberian susu/cairan manis dalam botol, atau dapat juga berupa ASI yang menempel pada permukaan gigi dalam waktu yang cukup lama serta makanan yang bersukrosa tinggi dan lengket. Bagi para orangtua yang punya anak balita, hal ini benar2 harus diperhatikan, karena biasanya ketidakpahaman orangtua terhadap bahaya karies-lah yang menjadi faktor pemicu menguatnya kondisi tersebut.

Hal yang paling sering tak disadari adalah kebiasaan ‘ngedot’ pada anak. Lamanya larutan (susu, soft drink, gula, dsb) dalam rongga mulut kian memperparah terjadinya karies. Istilah kerennya “nursing-bottle caries” (ada juga yang mengistilahkannya “Baby Bottle Tooth Decay/nursing caries/bottle caries/infant caries/early childhood caries). Umumnya, kasus seperti ini sering dijumpai pada anak usia >71 bulan. Rata-rata kerusakan ada pada gigi insisivus atas, gigi molar, dan gigi insisivus bawah. Rasanya nyeri banget!! Maka, tak heran jika anak akan kehilangan selera makan, bahkan kadang2 demam serta nafsu makan berkurang gara2 terganggunya proses mengunyah makanan. Sehingga secara tak langsung akan mempengaruhi proses tumbuh-kembang serta pertumbuhan gigi permanen anak.

Yup, segini dulu ya?.. moga2 info ini bermanfaat bagi kamu semua, khususnya para karies-customer… segera-lah menjadi ex, keluar dari peradaban jahiliyah teeth n mouth-disease!!….MERDEKA! (lho?) :-D

Caries

Caries

CULTURAL STUDIES (Sebuah Telaah tentang Kemunculan Cultural Studies dalam Ranah Kajian Komunikasi Massa)

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , on April 20, 2009 by enikkirei

Cultural studies merupakan kritik khas Inggris terhadap budaya kontemporer di dalam marxisme Barat. Cultural studies memiliki akar interpretasi marxis mengenai masyarakat dan telah berhasil dengan baik melalui aksesnya dalam berbagai interpretasi kesusastraan (histories) dan antropologis yang akhirnya melahirkan berbagai perdebatan terus-menerus pada masa pascaperang dunia II. Perdebatan tentang kajian ini telah dimulai pada 1961 lewat pergulatan tentang arah sejarah budaya dan ulasan Thompson atas The Long Revolution dalam New Left Review yang berada di bawah kepemimpinan editor Stuart Hall.

Cultural studies pada akhirnya menjadi suatu kajian yang mendeskripsikann tentang segala fenomena masyarakat kontemporer seperti yang nampak pada budaya pop, media, sub-culture, gaya hidup, konsumerisme, identitas lokal, dan sebagainya, yang mana media dan praktiknya diposisiskan di dalam totalitas ekspresif yang kompleks dan menggunakan perspektif holistik yang bersifat makro sebagai kondisi yang mendasari sosiologi budaya. Fenomena kontemporer ditandai oleh menguatnya budaya massa melalui media komersil, khususnya televisi. Selain itu, masyarakat yang ditandai perkembangan teknologi komunikasi berikut perkembangan mutakhir kehadiran media-media baru, terbentuknya masyarakat informasi serta isu globalisasi juga merupakan gejala fenomena masyarakat kontemporer.

Dari segi disiplin ilmu, cultural studies sering disebut sebagai wilayah kajian lintas-disiplin, multi-disiplin, pasca-disiplin, atau anti-disiplin. Seringkali yang dimaksud dengan ‘lintas’, ‘multi’, ‘pasca’, atau ‘anti’ tersebut merupakan sebuah fenomena pascamodern dalam dunia akademis tentang mengaburnya batas-batas antar-disiplin. Semua ini tentulah baik adanya, karena (dari sudut pandang nominalis) ‘disiplin’ sebenarnya hanyalah merupakan istilah untuk melegitimasi dan melembagakan metode dan medan minat sebuah kajian. Namun yang sering luput dan tidak hadir dalam perbincangan tentang lintas-disiplin dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora adalah bahwa gagasan lintas-disiplin dalam cultural studies juga melibatkan gagasan tentang perlintasan antara teori dengan tindakan. Inilah pokok permasalahan sebenarnya yang membedakan cultural studies dengan displin lainnya, yaitu hubungan cultural studies dengan berbagai persoalan kekuasaan dan politik, dengan keinginan akan perubahan dan representasi dari dan ‘untuk’ kelompok-kelompok sosial yang termarginalisasi, terutama kelompok kelas, gender dan ras (tetapi juga kelompok usia, kecacatan, kebangsaan, dsb). Cultural studies merupakan bangunan teori yang dihasilkan oleh pemikir yang menganggap produksi pengetahuan teoritis sebagai suatu praktik politis. Di sini pengetahuan tidak pernah dipandang sebagai fenomena netral atau obyektif, melainkan sebagai persoalan posisionalitas, persoalan dari mana, kepada siapa dan dengan tujuan apa seseorang bicara. Memang benar bahwa sifat lintas-metode dan lintas-medan minat bisa dilihat sebagai sebuah ciri cultural studies yang menonjol, namun pertanyaan tentang peran intelektual sesungguhnya merupakan persoalan yang lebih pokok dalam cultural studies.

Dengan demikian, kemunculan cultural studies dalam ranah komunikasi massa bukanlah merupakan suatu hal baku yang hanya berkutat pada media dan dampaknya sebagaimana wacana komunikasi massa pada umumnya, melainkan merupakan suatu kajian mutakhir pada era postmodern yang membahas mengenai isu-isu kontemporer komunikasi dari perspektif cultural (yang akhirnya juga melibatkan perspektif marxian dengan berbagai fenomena pertarungan ideologi di dalamnya, perspektif fungsional dan pandangan postrukturalis) yang diposisikan sebagai fenomena komunikasi. Bagi kajian komunikasi massa, cultural studies merupakan sebuah pandangan alternatif dari perspektif ilmu komunikasi yang telah ada selama ini, yang dapat memperkaya sudut pandang para peminat komunikasi dalam memahami realitas komunikasi dan kebudayaan sebagai hal yang saling berkaitan.

Selain itu, cultural studies ingin memainkan peran demistifikasi, untuk menunjukkan karakter terkonstruksi teks-teks kebudayaan dan berbagai mitos dan ideologi yang tertanam di dalamnya, dengan harapan bisa melahirkan posisi-posisi subyek. Sebagai sebuah teori yang politis, cultural studies diharapkan dapat mengorganisir kelompok-kelompok oposisi yang berserak menjadi suatu aliansi politik kebudayaan. Sedangkan dari segi metode penelitian komunikasi, cultural studies ingin memperkuat posisi etnografi, pendekatan tekstual (semiotika dan teori narasi) serta kajian-kajian resepsi/konsumsi sebagai suatu metode yang lebih relevan untuk diterapakan dalam ilmu sosial.

Cultural Studies

Cultural Studies

Kotak Pandora Itu Bernama “Televisi”

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , on April 20, 2009 by enikkirei

Fenomena masyarakat konsumtif semakin menggelegak belakangan ini. Media – media massa di tanah air kini sarat dengan aroma Pop Culture yang tentunya identik dengan pemberdayaan media sebagai kepentingan komersil. Dalam hal ini, televisi selalu menjadi jawara dalam rangka menyuntikkan pengaruh bombastisnya pada khalayak dibanding rekan – rekan mass media lainnya. Televisi memang lebih kesohor, lebih efisien dan lebih jitu dalam mendistribusikan berbagai macam info, mulai dari tayangan yang berbau religi hingga budaya – budaya metroseksual yang belakangan ini kian marak di penjuru kota – kota metropolitan.

“Dunia adalah sebuah kampung” telah dimanifestasikan oleh kotak ajaib dengan sejuta hipnotisnya ini. Susah – payahnya mendulang informasi dari bacaan yang telah membudaya di kalangan intelektual Eropa dan Amerika sejak era 80-an, kini harus rela tersingkir dan dengan penuh kerendahan hati harus rela mengakui saktinya televisi. Maka bukanlah hal yang aneh jika akhirnya muncul budaya santai, kedangkalan informasi serta serta pola hidup konsumtif yang kian merajalela.

Apa yang menyulut api budaya massa ini? Adalah wabah masyarakat kontemporer yang sukses diciptakan oleh sebuah kotak pandora berwarna plus berlayar datar ini dengan senjata pamungkasnya mampu melumpuhkan sekaligus mencuci otak para pemirsa awam (yang didominasi oleh kaum remaja). Dari sinilah agaknya hypodermic needle bekerja. Mereka disihir sehingga …”Abakadabra…!!”..muncullah para robot yang dicontrol oleh semacam moralitas baru, imbas kultur komersialisme. Tak membeli nokia termutakhir berarti ‘gaptek’, tak mencoba maybelline warna terbaru sama dengan siap tampak norak. Atau malas bereksperimen dengan produk – produk modifikasi tubuh berarti harus siap didepak pria pujaan hati lantaran muka kusam, bopeng, berjerawat, draperi plus lipatan lemak yang menghias paha dan perut. Jadi? Ya..takut nggak laku-lah, nggak gaul-lah, de es be..de es be.

Tanpa terasa kita telah dibombardir dan digiring menuju lembah kelam kapitalisme, sebuah ruang tak berbatas, tak berdinding, kabur dan begitu absurd. Manusia – manusia merasa tertuntut untuk mempertahankan eksistensi, pesona, citra diri mereka sehingga mulailah mendramatisasi kehidupan sebagai wujud atas keresahan mereka guna bisa membuat resah orang lain. Semisal kisah seorang idola yang mati – matian berdandan aneh demi membuat histeris para fansnya, teroris yang berhasil mengebom kerumunan khalayak atau seorang mahasiswi yang memperlihatkan keseksian tubuhnya tanpa malu yang tragisnya pada akhirnya harus rela diperkosa rekan laki – lakinya.

Inilah dunia televisi. Ronanya tak sepolos setengah abad yang lalu ketika untuk pertama kalinya ia ditemukan. Televisi hanyalah sekedar menampilkan gambar berjalan. Sekedar teknologi mutakhir yang cukup membuat orang terbius. Tetapi seiring dengan berputarnya waktu, televisi mulai menampilkan berbagai skenario, apakah itu tentang politik, kebenaran maupun gubahan marginalitas. Medium ini menjadi semacam penyebar, pengolah, pemanipulasi pesan sebagaimana celetukan renyah Marshall McLuhan dalam Understanding Media di era 60-an bahwa, “Setiap medium tak lain adalah pesan itu sendiri.” McLuhan menuding bahwa medium lebih bertanggung jawab terhadap dampak yang terjadi dalam masyarakat ketimbang isi pesan yang disampaikan itu sendiri, atau dengan kata lain, televisi mempunyai stereotipe buruk, semua yang ditayangkan buruk, membahayakan dan tak layak dikonsumsi untuk khalayak.

Sekali lagi, inilah dunia tak berdinding, named is television. Kita tak hanya disuguhi fakta ter-gres, aktual, fenomenal dan terpercaya. Namun juga jerit tangis, tawa, canda, horor, et cetera. Seolah televisi merupakan dunia itu sendiri.Batas – batas identitas turut mengabur sehingga patut dipertanyakan manakah yang benar, kita yang meniru televisi ataukah televisi yang meniru kita?

Ket: Artikel ini pernah mengalami publikasi sebelumnya di Buletin Channel-11

Televisi

Televisi

Pentingnya Bersiwak

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , on April 20, 2009 by enikkirei

Kalo temen2 membaca Bab Thaharah, tentunya masih inget kan hadis nabi berikut ini?

“Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat” (HR. Bukhari – Muslim).

Tuh kan? Ini menunjukkan kalo aktivitas bersiwak alias menyikat gigi tu bermanfaat banget, multimanfaat, hampir jadi kewajiban malah!!

Trus, gimana cara menyikat gigi yang bener? Ingat!! ‘menyikat’, bukan ‘menggosok’ gigi lho! Inilah yang menjadi problematika umum dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya, aktivitas bersiwak ini lebih mirip menggosok, mengamplas dan mengikis lapisan gigi daripada menyikat. Inilah yang pada akhirnya justru membahayakan si pemilik gigi tersebut. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bagaimana teknik menyikat gigi yang benar sehingga tidak merusak gusi, email maupun elemen gigi lainnya. Mo tau tekniknya?

Pertama, letakkan posisi sikat 45 derajat terhadap gusi

Kedua, gerakkan sikat dari arah gusi ke bawah untuk gigi rahang atas (mirip gerakan mencungkil)

Ketiga, gerakkan sikat dari arah gusi ke atas untuk gigi rahang bawah

Keempat, sikatlah seluruh permukaan yang menghadap bibir dan pipi serta permukaan dalam dan luar gigi dengan cara tersebut

Kelima, sikat permukaan kunyah gigi dari arah belakang ke depan.

Pada intinya, teknik tersebut merupakan gerakan menyeluruh dalam menyikat gigi sehingga seluruh sela dan lekuk gigi tersapu dalam sebuah gerakan membuang kuman (misal: ke atas dan ke bawah pada gigi depan). Dan jangan lupa, lakukan gerakan dengan sapuan yang lembut!:-)

Eh, tapi mengapa siwak masih dipertahankan hingga sekarang ya? Hmmm, kalo berbicara tentang sunnah, siwak pastinya menjadi pilihan tepat dalam membersihkan gigi. Bagi yang belum tau apa itu siwak, silahkan simak penjelasan singkat berikut ini:
Siwak merupakan bagian dari tanaman arak alias Salvadora persica, diambil dari bagian akar dan ranting tanaman segar tersebut, berdiameter mulai 0,1 s/d 5 cm. Trus apa pula yang dimaksud pohon arak? Nah, pohon arak sendiri merupakan pohon kecil, mirip belukar dengan batang bercabang-cabang serta berdiameter lebih dari 1 kaki. Jika dikelupas kulitnya, warnanya keputih-putihan serta memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih, beraroma mirip seledri dan berasa sedikit pedas.

Mengapa batang siwak yang menjadi pilihan? Karena batang tersebut memiliki serat yang elastik dan tak merusak gigi meskipun di bawah tekanan yang keras. Nah, inilah solusi untuk problem ‘menggosok gigi’ tadi. Yang lebih keren, batang siwak yang kecil ini ternyata memiliki kemampuan fleksibilitas tinggi, sehingga dapat digunakan untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi serta menghilangkan plaque (plak). Selain itu, siwak memiliki kanduangan kimiawi yang bermanfaat sebagai berikut:

1.Antibacterial acids yang berfungsi untuk membinasakan bakteri, mencegah infeksi serta menghentikan laju pendarahan pada gusi. Mungkin waktu pertama kali menggunakan siwak akan terasa pedas dan terasa agak ‘membakar’. Mengapa demikian? Karena siwak memiliki kandungan serupa mustard di dalamnya yang merupakan substansi antibacterial acids tersebut. Kandungan kimia semisal klorida, potassium, sodium bicarbonate, silica, sulfur, vitamin C, trimethyl amine, salvadorine, tannins dan beberapa mineral lainnya berfungsi untuk membersihkan, memutihkan serta menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan inilah yang sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.

2.Minyak aroma alami yang mempunyai rasa dan bau yang fresh, menjadikan mulut harum serta melenyapkan bau tak sedap.

3.Enzim yang mencegah pembentukan plak yang menyebabkan radang gusi. Plak juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.

4.Antidecay agent alias zat anti pembusukan, yang bertugas menurunkan jumlah bakteri di mulut serta mencegah proses pembusukan. Di samping itu, siwak juga ikut merangsang produksi saliva lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Nah, jika ada yang mengatakan kalo bersiwak itu rumit, justru sebaliknya. Bersiwak itu praktis coz satu alat saja sudah mencakup sikat gigi lembut, alami n fleksibel plus pasta gigi dengan kandungan lengkap. Memang di Negara kita ketersediannya masih terbatas banget, tak semudah mendapatkan sikat dan pasta gigi. Semoga saja beberapa tahun ke depan, geliatnya akan muncul dan kita dapat menjumpai kemasannya di toko-toko dengan mudah.

Menyikat Gigi

Menyikat Gigi

Schramm dalam Sejarah Riset Komunikasi Massa dan Paradigmatik Jurnalisme

Posted in Uncategorized on April 20, 2009 by enikkirei

A. BIOGRAFI
Wilbur Schramm mempunyai nama lengkap Wilbur Lang Schramm, seorang pakar komunikasi berparadigma positivistik dari Amerika Serikat. Beliau lahir di Marietta, yakni sebuah kota yang terletak di batas selatan Ohio, yang diberi nama oleh penjajah Perancis pada tanggal 5 Agustus 1907dan meninggal di Honolulu, Hawaii pada tanggal 27 Desember 1987. Leluhur Schramm berasal dari Schrammsburg, Jerman, dan nama Jerman yang didapat Schramm dikarenakan kesulitan keluarganya selama Perang Dunia I, sewaktu Schramm masih anak-anak. Ayahnya adalah seorang pengacara di Marietta, yang membuka praktek legal yang menyedihkan.
Meraih gelar A.B. dari Universitas Marietta (1928), A.M. dari Universitas Harvard (1930) dan Ph.D. dari Universitas Iowa (1932). Schramm mengajar Bahasa Inggris di Iowa (1935-1943), selain itu juga mendasari berdirinya American Prefaces sekaligus sebagai editornya. Menjadi pimpinan the Iowa Writer’s Workshop, bekerja di firm Harcourt Brace dan membantu di federal war information agencies. Beliau memimpin School of Journalism di Iowa (1943-1947). Kemudian menjadi pimpinan program kajian komunikasi massa di Universitas Illinois, Universitas Stanford dan the East-West Center, Universitas Hawaii. Beliau merupakan seorang penulis produktif dan editor di American literature dan Mass Communication.

1. Kegagapan Schramm
Kegagapan menjengkelkan yang diidap oleh Wilbur Schramm sejak ia berumur 5 tahun dikarenakan operasi amandel yang kurang baik. Pidatonya sangat memalukan bagi dirinya dan keluarganya. Sebagai pengidap kegagapan, ayah Schramm mengamati kemenarikan dari anaknya dimana ia bermimpi tentang karirnya dalam hukum dan politik. Kegagapan anak lelakinya sangat traumatik baginya. Ia menghindari berbicara di depan publik. Sebagai ganti dari pidato perpisahan SMA nya, Schramm memainkan The Londonderry Air dengan flutenya. Namun, saat ia lulus cumlaude dari Marietta College pada jurusan sejarah dan ilmu politik pada tahun 1928, ia memberikan pidato perpisahan. Secara berangsur-angsur Schramm belajar hidup dengan kegagapannya, dimana dengan secepat mungkin ia lebih sedikit melafalkan sesuatu. Meskipun demikian, pidato sulitnya memberikan efek di kehidupannya kemudian, yang secara cepat memimpinnya ke dalam bidang komunikasi di karir keduanya.
Saat ia masih kecil, Schramm menunjukkan semangat yang mana dapat mengkarakterisasikan karir sesuai keinginan, kreativitas, kemampuan intelektualnya dan menjadikan ia sebagai master dalam suatu bidang yang baru. Schramm mengajar di Universitas Iowa pada awal tahun 1930-an, ia tidak mengira bahwa sarjana muda yang gagap dapat menjadi seorang pengajar. Namun secepat mungkin, dengan terapi berbicara dan mungkin dengan tumbuhnya ras percaya diri terhadap kemampuan verbalnya, Schramm mengatasi masalah kegagapannya sedikit demi sedikit. Ia menjadikan mengajar adalah karir dalam bagian hidupnya. Dan dalam kehidupan selanjutnya, adakalanya cara bicara yang gagap adalah suatu masalah.
Schramm sulit berbicara namun mudah menulis, dan ia mendapat biaya kuliahnya dengan bekerja paruh waktu sebagai reporter olahraga pada koran Marietta Register dan bekerja di Boston Herald selama ia lulus dari Universitas Harvard, menyelesaikan gelar MA nya di American Civilization pada tahun 1930. Mengapa Schramm meninggalkan Harvard setelah mendapatkan gelar masternya? Uang kuliah di Harvard adalah 500 dollar per semester, dan Schramm mengalami kesulitan financial. Dalam waktu senggangnya di Harvard, ia bekerja enam paruh waktu secara serempak, setelah itu ia dihadiahi beasiswa kelulusan, dan itu sedikit banyak menenangkan financial atau keuangannya, namun ketika bursa saham anjlok hal tersebut menjadi penyebab depresi yang hebat. Alasan lain Schramm pindah ke Universitas Iowa untuk gelar doktornya berkaitan dengan kegagapan yang dialaminya. Salah satu ahli top tentang kegagapan di United States, Profesor Lee Edward Travis, menyelenggarakan penelitian dan pelatihan tentang kegagapan di Iowa. Teorinya tentang penanganan yang salah menjadi faktor kegagapan, sehingga ia mengikat tangan kanan Schramm di sebelahnya, itu tidak menolong.
Travis bekerja tentang kegagapan setelah dipindahkan ke Iowa oleh Wendell Johnson, dan saat itulah ia menjadi penolong Schramm dengan memberikan pengarahan dan terapi. Johnson mengalami kegagapan sejak ia berumur 5 tahun. Kegagapan sering didiagnosa dikarenakan orang tua yang perfeksionis dimana anak mungkin memiliki keraguan yang sungguh-sungguh dan karakteristik pengulangan dari berbicara normal yang dialami kebanyakan anak kecil. Dalam bagian ini, kegagapan adalah definisi penyakit sosial. Lebih lanjutnya, kebanyakan individu jarang gagap bila sedang sendiri tetapi bila hanya bicara face to face dengan orang lain, khususnya dalam situasi tertekan. Johnson memandang kegagapan sebagai sesuatu yang disebut masalah komunikasi. Tentu saja Johnson melewatkan sudut pandang ini terhadap Schramm. Masalah kegagapan Schramm merupakan salah satu alasan bagi Schramm untuk menyukai komunikasi sejak dini.

2. Pasca Sarjana dalam Percobaan Psikologi
Latihan Schramm terhadap kegagapannya membuatnya memunculkan bidang pembelajaran komunikasi dengan teliti dan detail dan memimpin Schramm kedalam percobaan penelitian tentang perilaku berbicara. Tetapi basic Schramm di Iowa adalah humanistic setelah mendapat gelar Ph. D pada literature Inggris pada tahun 1932. Desertasinya dianalisis oleh Henry Wadsworth longfellow’s tentang syair kepahlawanan Hiawatha. Setelah Schramm menerima beasiswa pasca sarjana dari American Council of Learned Societies dan ia tinggal di Iowa untuk dua tahun sekolah pasca sarjananya dengan Profesor Carl E. Seashore pada departemen psikologi. Schramm membentuk laboratorium percobaan tenatang masalah audiologi dan mempelajari percobaan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Fakta bahwa Schramm menyelenggarakan penelitian pasca sarjana dalam bagian yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya merupakan pernyataan dari semangat “bisa”-nya. Nampak penuh resiko saat Schram selanjutnya menekuni karir yang bergeser dari literatur Inggris ke pendidikan jurnalisme dan selanjutnya ke bidang baru tentang pembelajaran komunikasi yang ia ciptakan. Karakter semangat Schramm memenuhi kehidupan Schramm dan menjadi salah satu kualitas penting dirinya. Ia dapat melampaui secara luas di berbagai macam bidang. Pada tahun 1960-an, dimana ia sebagai anggota senior fakultas di Stanford, Schramm membeli instruksi diri manual dan mengajarkan dirinya FORTRAN computer program. Schramm menekuni dunia tulis-menulis selama 18 tahunnya di Stanford dengan menggunakan beberapa jenis tulisan elektronik. Hidup Schramm adalah tambang emas dari materi ketertarikan manusia. Wilbur Schramm memiliki kebaikan di hampir semua hal yang ia ambil dari pikirannya. Siapa saja yang mengenalnya dengan baik sering mendeskripsikan Schramm sebagai manusia yang bangkit kembali. Rasa percaya dirinya menunjukkan kualitas penting dari pendirian bidang akademik yang baru.

3. Workshop Penulisan Iowa
Dari tahun 1935 sampai 1942, Schramm menjadi asisten profesor pada jurusan Inggris di Universitas Iowa, dimana ia mencapai ketenaran dengan cepat sebaga direktur dari Workshop Penulis Iowa, beberapa teman dekat yang tergabung dalam kelompok mahasiswa yang telah lulus bekerja bersama Schramm dan beberapa anggota fakultas lain yang memiliki kemampuan yang menguntungkan di dunia menulis fiksi hingga para staff magang yang berpengalaman. Workshop tersebut mengemukakan tentang seminar kelulusan tentang tulisan fiksi yang diajarkan oleh Profesor Edwin Ford Piper untuk beberapa tahun di Universitas Iowa. Piper memberikan kursus pada fokus regional, penekanan budaya Iowa, dalam rangka menyeimbangkan penyimpangan yang kebanyakan terjadi di pesisir timur Amerika.
Pada gaya pengajaran ini, workshop bersifat partisipasi dan akrab. Schramm mengadakan konferensi individu dengan beberapa murid setiap minggu sekali di kantornya. Jika murid terebut menulis sesuatu yang siap dipertimbangkan oleh Schramm, ia harus mempresentasikan di seminar mingguan, yang mana sering diadakan dirumah Schramm. Dalam metode ini, walaupun tidak teratur, Workshop Penulis Iowa merupakan percobaan program doktor dalam komunikasi yang akan diluncurkan oleh Schramm sesudah itu di Iowa, Illinois dan Standford.
Schramm mendapat keuntungan yang pantas dipertimbangkan dengan memiliki reputasi sebagai penulis, artikel majalahnya diterbitkan ulang dalam sebuah kumpulan puisi, ia memenangkan juara tiga pada O.Henry Prize dalam dunia menulis fiksi pada tahun 1942, dan ia menerbitkan buku fiksi, Windwagon Smith and Other Yarns. Dia melanjutkan karirnya sebagai author dan profesor menulis fiksi, namun keadaan ini diselai oleh Perang Dunia ke 2. Schramm memiliki keahlian dalam teori ilmu sosial (social science theory) dan penelitian.

4. Perang Dunia II di Washington D.C.
Perang dunia ke-2 memiliki dampak luar biasa terhadap bidang komunikasi, hal tersebut membawa beberapa sarjana Amerika berpindah ke Eropa seperti Kurt Lewin, Paul F. Lazarsfeld, dan Theodor Adorno, hal inilah yang membuat sarjana Amerika seperti Carl I. Hovland dan Harold D. Laswell ke dalam penelitian komunikasi, dan hal tersebut menghubungkan para sarjana yang mengenalkan bidang pembelajaran komunikasi kedalam jaringan padat. Komunikasi merupakan suatu pertimbangan yang rumit dalam memberi tahukan kepada rakyat Amerika tentang gol perang suatu negara, dan berbagai macam makanan dan jatah gas dan pengorbanan kebutuhan lain dan hal ini memotivasi rakyat untuk membeli surat obligasi perang, untuk menghindarkan pembelian barang-barang sutra dan barang langka lainnya yang ada di pasar gelap, dan untuk memenangkan persaingan, juga mendukung usaha perang lewat jalur lain. Maka dari itu, penelitian komunikasi pada awalnya berpusat untuk mempelajari efek komunikasi. Konsensus ini menjelaskan tentang peran komunikasi selama Perang Dunia ke-2 terjadi, dan hal tersebut sebagian besar terjadi di Washington D.C.

5. Jaringan Ilmuwan Sosial
Selama Perang Dunia ke-2, Washington merupakan tempat bagi ilmuwan-ilmuwan sosial. Beberapa musuh Amerika mewakili kejahatan namun tidak mengurangi ilmuwan sosial yang menentang pernag walau jumlahnya sangat sedikit., khususnya setelah kejatuhan Perancis pada Juni 1940, ketika hal tersebut menjadi nyata bahwa Hitler mendominasi Eropa. Perang Amerika menjadi tujuan bersama para sarjana ini yang akan dating dan membawa mereka bersama kedalam jaringan hubungan yang secara keseluruhan mengakhiri karir mereka. Upaya perang ini menuntut pendekatan interdisiplin, yang sering berpusat pada masalah komunikasi. Perang Dunia ke-2 itu mendukung kondisi untuk pendirian studi komunikasi.
Tidak ada ilmuwan sosial yang tergabung dalam penyelenggaraan penelitian komunikasi pada saat perang yang sudah terlatih dalam studi komunikasi, tidak ada yang bergelar doctor komunikasi yang eksis pada waktu itu. Pemerintahan federal menggunakan penelitian komunikasi pada situasi gawat yang mendekati perang dan bermacam tipe penelitian komunikasi yang dibutuhkan secara detail, seperti misalnya content analysis, survey, dan studi panel. Memorandum ini menjadi dokumen pendirian untuk kemunculan bidang studi komunikasi. Pemerintahan federal berhubungan dengan beberapa tipe penelitian komunikasi selama Perang Dunia ke-2, yang mana masing-masing memiliki konsekuensi jangka panjang dalam bidang studi komunikasi.

6. Visi Schramm dalam Studi Komunikasi
Visi Schramm dibentuk selama 1942, saat ia menjadi direktur divisi pendidikan OFF dan yang terakhir pada OWI. Idenya tentang komunikasi mungkin tumbuh berangsur-angsur melalui kontak setiap hari dengan sarjana lain yang memiliki minat dalam memunculkan bidang komunikasi. Kelompok tersebut mencoba menilai melalui survey mengenai efek dari kegiatan komunikasi yang mereka lakukan terhadap publik. Tujuan utama dari perencanaan ini adalah untuk menyelesaikan kampanye komunikasi dalam skala besar yang dipandu oleh ahli-ahli terbaik yang ada, dengan feedback tentang menyajikan efek dari efek audience.

7. Program Iowa dalam Penelitian Komunikasi Massa
Saat Wilbur Schramm kembali ke kota Iowa, hal itu menjadi suatu kejadian kebetulan bahwa ia sedang mengalami ketegangan di sekolah jurnalistiknya di universitas. Merupakan hal yang aneh saat Schramm diangkat menjadi direktur karena ia tidak pernah punya waktu penuh sebagai jurnalis. Saat itu kebanyakan pengalamannya sebagai reporter atau editor dipertimbangkan sebagai kebutuhan yang esensial untuk ditetapkan menjadi profesor jurnalisme. Schramm tidak memiliki jiwa profesor jurnalisme, dan ia tidak mendapatkan kursus di bidang tulis menulis dan kemampuan editing kapanpun selama karirnya. Ia mengejar visi yang lebih luas dari studi komunikasi dan ia mempertimbangkan dirinya untuk beberapa tahun kedepan berada di sekolah jurnalisme.
Studi komunikasi tumbuh diluar perpustakaan dan ilmu informasi. Sebagai gantinya, Schramm mencocokkan visi studi komunikasinya ke dalam sekolah jurnalisme, hal ini dilakukan untuk membentuk dan menhambat jalur terpenting tentang apa yang dimaksud dengan bidang komunikasi yang akan datang. Inagurasi komunikasi pertama program Ph.D di sekolah jurnalistik adalah merupakan latihan professional yang berorientasi untuk mencetak saluran-saluran komunikasi, secara langsung dipimpin oleh divisi bidang komunikasi kedalam dua subdisiplin : komunikasi massa (mass communication) dan komunikasi antar pribadi (interpersonal communication). Program doctor lain dalam studi komunikasi yang diluncurkan selanjutnya yang berada di jurusan bicara/pidato dan stressing interpersonal interaction. Apalagi, Schramm memiliki gelar doktor di bidang humanistik dan hal tersebut tidak dapat diterima sebagai anggota fakultas suatu jurusan lainya. Sehingga ia meluncurkan disiplin komunikasi baru di sekolah jurnalistik walaupun kurikulum yang ia buat merupakan interdisiplin, menggambarkan tentang kursus dalam bidang psikologi, sosiologi dan ilmu politik.

8. Institut Penelitian Komunikasi
• The Research Division in The University of Minnesota’s School of Journalism, didirikan oleh Ralph Casey dan Ralph O. nafgizer pada tahun 1944 sekembalinya Nafgizer dari kerjanya di OFF/OWI. Ini merupakan pertama kalinya institute penelitian komunikasi berda di sekolah jurnalistik di Amerika.
• Schramm’s Bureau of Audience Research at the University Iowa pada tahun 1946.
• Schramm’s 1947 Institute of Communication Research at the University of Illinois.
• The Mass Communication Research Center at the University of Wincosin, didirikan tahun 1949 oleh Ralph O. Nafgizer setelah ia pindah ke Madison dari Minnesota.
• Chilton bush’s 1955 Insitute for Communication Research at Stanford University, yang mana diarahkan oleh Wilbur Schramm setelah tahun 1957.
• The Communication Research Center at Michigan State University, didirikan oleh Paul J. Deutschmann.
Institut penelitian ini menyajikan latihan magang untuk mahasiswa doktoral komunikasi dan membuatnya mudah untuk memperoleh disiplin ilmu sosial dalam penelitian komunikasi. Sosiolog dan psikolog mungkin lebih sedikit berpartisipasi dalam studi komunikasi jika kebanyakan berasal dari sekolah jurnalistik, dimana ilmuwan sosial yang lain dirasa tidak relevan terhadap minat penelitian mereka. Institut penelitian komunikasi menjadi suatu sumber yang bergengsi bagi sekolah jurnalistik yang mungkin diremehkan oleh ahli dibidang lain karena dianggap tradisi sekolah adalah latihan jurnalistik.
Institut penelitian dapat lebih fleksibel daripada jurusan di universitas. Hal ini lebih mudah dikenalkan daripada jurusan dan institut dapat memfasilitasi gabungan interdisiplin. Oleh karena itu institut merupakan tempat ideal dimana dapat memperkenalkan bidang baru dari studi komunikasi. Tetapi dari segi fleksibelitasnya juga membuat mereka peka, dan banyak dari institute penelitian komunikasi ditemukan pada era Schramm namun sekarang sudah tidak ada dan relative kurang sesuai.
Schramm memainkan peran kunci dalam sejarah studi komunikasi. Ia adalah pendiri dari suatu bidang, orang pertama yang mengidentifikasi dirinya sebagai sarjana komunikasi, ia menciptakan program tingkat akademik pertama dengan menamainya komunikasi, dan ia melatih generasi pertama dari sarjana komunikasi. Schramm memberikan hak terhadap buku Illinois yang membantu memperkenalkan bidang baru tersebut. Program komunikasi massa Schramm di Sekolah Jurnalistik Iowa merupakan proyek percobaan untuk program doktor dan institut penelitian komunikasi yang ia dirikan di 1947 di Urbana. Di Illinois, Wilbur Schramm mengatur pola gerakan dari kerja para sarjana dalam studi komunikasi yang berlanjut hingga hari ini.

9. Penetapan Kajian Komunikasi
Wilbur Schramm (1907-1987) merupakan pendiri bidang studi komunikasi. Tanpa pertanda dari Laswell, Lazarsfeld, Lewin, Hovland, Wiener dan Shanon, komunikasi tidak dapat mencapai sebagai suatu status, tetapi itu karena Schramm. Schramm mendirikan institut penelitian komunikasi di Iowa, Illinois dan Stanford yang mengadakan investigasi kesarjanaan, pelatihan Ph.D komunikasi yang baru dan selalu membawa bidang interdisiplin baru. Institusional komunikasi ini mengijinkan integrasi teori dan metode yang menyerang masalah dalam komunikasi manusia. Schramm sangat krusial dalam pembukaan studi komunikasi di tahun-tahun sesudah Perang Dunia ke-2. ialah orang pertama yang memiliki gelar profesor komunikasi.

10. Kontribusi Schramm dalam Kajian Komunikasi
Wilbur Schramm adalah pendiri studi komunikasi. Beliau dikenal sebagai Bapak Pelembaga kajian komunikasi. Beliau pula yang pertama kali menyebut diri sebagai sarjana komunikasi. Beberapa orang mendirikan bidang ilmu baru harus sesuai dengan visinya. Schramm membentuk visinya pada tahun1942 di Washington D.C, selama Perang Dunia ke-2. Ia kembali ke Universitas Iowa untuk mengenalkan visinya tentang studi komunikasi di sekolah jurnalistik. Selanjutnya penerimaan perspektif ini telah disiapkan oleh Daddy Bleyer, yang merupakan pendidik pelopor jurnalistik di Universitas Wisconsin, dan anak didiknya yang menganut jurnalisme dalam rangka mempertahankan penelitian di universitas-universitas membutuhkan dasar dari ilmu sosial. Studi komunikasi ada san menyebar di seluruh sekolah jurnalistik, sedikitnya di inisial era daripada diterapkan di jurusan komunikasi yang baru dibentuk. Kemudian dengan berangsur-angsur dan tanpa masalah Green-Eyeshades lawan Chi-Squares yang terjadi di jurnalistik, komunikasi juga menyerbu jurusan pidato atau bicara, dan memutarnya jauh dari humanistik dan menjadi retorika selanjutnya. Intisarinya, jurusan komunikasi antar pribadi memiliki orientasi yang kuat kearah psikologi.
Penambahan dari visinya, Wilbur Schramm memiliki kualitas penting untuk mendirikan bidang studi komunikasi. Ia menginvestasikan dalam jangka panjang untuk menerapkan idenya. Schramm adalah orang yang brilliant, penuh ide dan ia berhasil mengarang banyak buku tentang komunikasi massa. Ia memiliki pribadi yang mengasyikkan yang menyerang pelamar doktor dan membiayai penelitian pada institut penelitiannya. Hasil penting yang tidak dapat diragukan dari kerjanya adalah gelar Ph.D dalam komunikasi yang dapat menembus ke seberang dunia setelah dipelajari oleh Schramm dan Stanford untuk menyebarkan konsep studi komunikasi. Schramm memberikan penjelasan spesifik tentang bagaimana mempelajari bidang baru. Ia mempelajari spesialisasi penelitian baru seperti komunikasi internasional, pengembangan komunikasi dan efek televisi terhadap anak-anak.Yang paling penting, Wilbur Schramm menetapkan unit akademik yang pertama yang dinamakan “komunikasi” di Illinois dan selanjutnya di Stanford.
Schramm dikenal sebagai pendokumentasi pemikiran-pemikiran sejumlah ahli seperti Lasswell, Hovland, Shannon dan Weaver, dan sebagainya sebagai teks awal kajian komunikasi. Schramm pernah mengadakan penelitian mengenai Satelit Palapa di Indonesia bersama Go Chu dan beberapa sarjana politik Indonesia, yakni Dr. Alfian, M. Alwi Dahlan, serta pakar-pakar komunikasi generasi awal Indonesia lainnya. Selain itu, Schramm juga berinteraksi dengan sejumlah tokoh komunikasi seperti Elihu Katz dan Gregory Bateson. Kajian komunikasi di Indonesia yang sejak Orde Baru sangat kental mendapat warna dari tradisi yang dikembangkan oleh Schramm.

B. BEBERAPA PEMIKIRAN SCHRAMM
1. Definisi Teori
Dalam buku Introduction to Mass Communication Research (Nafgizer & White, 1972:10) mendefinisikan teori sebagai:
“Suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar yang tinggi, dan daripadanya proposisi bisa dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai perilaku.”
Dari definisi tersebut, sudah jelas bahwa teori merupakan hasil telaah dengan metode ilmiah., yakni metode penyelidikan atau metode pemapanan kebenaran yang menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Obyektivitas (objectivity)
Metode ilmiah mencari fakta dengan menganalisis informasi dari dunia nyata (real world), yaitu dunia di luar si ilmuwan yang meneliti. Fakta dipilih bukan karena mendukung keinginan si ilmuwan, namun karena dapat diuji secara berulang-ulang oleh peneliti lain.
Obyektivitas dapat dicapai paling tidak dengan 2 cara, yaitu:
1. Empirisme (empirism)
Mensyaratkan suatu kepercayaan atau proporsisi harus diuji dalam dunia nyata, yakni dunia yang dapat diindera (dilihat, dirasakan, diraba) atau dapat dialami.
2. Logika formal (formal logic)
Mengkaji kondisi-kondisi dimana kepercayaan/proposisi perlu mengikutinya dan karenanya dapat ditarik kesimpulan dari proposisi-proposisi lainnya.

b. Berorientasikan masalah (problem oriented)
Metode ilmiah akan dapat dimulai hanya jika seorang peneliti mengkaji adanya masalah, baik yang praktis maupun teoretis, yang memerlukan keputusan. Masalah seringkali dirumuskan dalam bentuk pertanyaan ”mengapa………?”. Ini dapat timbul dari rasa penasaran yang sederhana saja atau dari hasrat peneliti untuk menemukan keteraturan di antara fakta/pengamatan, sedemikian rupa sehingga dapat mengerti lingkungannya lebih baik. Menemukan pemecahan mengenai suatu masalah merupakan suatu metode ilmiah yang penting.

c. Dipandu hipotesis (hypothesis guided)
Metode ilmiah dipandu oleh hipotesis. Sebuah hipotesis adalah keterangan/keputusan yang diajukan kepada masalah untuk memulai penelitian. Hipotesis biasanya diformulasikan dalam ungkapan/pernyataan “Jika….,maka….”, yang menyarankan hubungan antara fakta dengan pengamatan. Apabila suatu pengamatan/observasi terbukti benar, maka pengamatan selanjutnya juga harus benar. Ciri hipotesis yang baik adalah :
1. Terpaut (relational)
2. Berdasarkan pengetahuan terdahulu (based on previous knowledge)
3. Verifikasi obyektif (objective verification).

d. Berorientasikan teori (Theory oriented)
Tujuan jangka panjang metode ilmiah adalah merumuskan teori. Teori merupakan seperangkat dalil/prinsip umum yang saling terkait (hipotesis yang diuji berulangkali) mengenai aspek-aspek suatu realitas (Theory is a set of interrealated law or general principles hypothesis that have been repeatedly verivied about some aspect or reality).

e. Korektif mandiri (self-corrective)
Sifat korektif mandiri dari ilmu menyebabkan perlunya bagi ilmuwan untuk memberikan keleluasaan kepada ilmuwan lain dalam bidang yang sama untuk menelitinya secara mendalam. Hal ini bukan saja untuk menyebarkan pengetahuan baru yang menjadi landasan bagi penyelidikan lain, namun juga untuk memungkinkan penggunaan prosedur yang sama dalam situasi yang berbeda. Dalam hal ini nilai tertentu terletak pada publikasi/diseminasi metode, tujuan dan hasil penelitian ilmiah.
Demikian proses terjadinya suatu teori. Teori seringkali dibandingkan-disamakan dan dibedakan-dengan model. Dalam ilmu komunikasi, teori sering dipertukarkan dengan model konvergensi sehingga adakalanya disebut sebagai teori konvergensi, model difusi inovasi dikatakan teori difusi inovasi, teori inokulasi dinyatakan sebagai model inokulasi dan sebagainya.

2.Model Komunikasi
Schramm membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengan model komunikasi manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebih rumit yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu.
Model yang pertama mirip dengan model Shannon dan Weaver. Dalam modelnya yang kedua, Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaran-lah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Model ketiga, Schramm menganggap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyendi-balik, mentransmisikan dan menerima sinyal. Di sini kita melihat umpan balik dan ”lingkaran” yang berkelanjutan untuk berbagi informasi.
Pada model ketiga ini, Schramm bekerjasama dengan Osgood sehingga dikenal sebagai model sirkular Osgood dan Schramm (The Osgood and Schramm Circular Model). Jika model Shannon dan Weaver merupakan proses yang linear, model ini dinilai sebagai sirkular dalam derajat yang tinggi. Perbedaan lainnya ialah apabila Shannon dan Weaver menitikberatkan perhatiannya langsung kepada saluran yang menghubungkan pengirim (sender) dan penerima (receiver) atau dengan kata lain, komunikator dan komunikan. Schramm dan Osgood menitikberatkan pembahasannya pada perilaku pelaku-pelaku utama dalam proses komunikasi. Shannon dan Weaver membedakan source dengan transmitter dan antara receiver dengan distination. Dengan kata lain, dua fungsi dipenuhi pada sisi pengiriman (transmitting) dan pada sisi penerimaan (receiving) dari proses. Pada Schramm dan Osgood ditunjukkan fungsinya yang hampir sama. Digambarkan dua pihak berperilaku sama, yaitu encoding (menyandi), decoding (menyandi-balik) dan interpreting (menafsirkan).

3. Teori-teori Schramm
Beberapa teori yang pernah dikemukakan oleh Wilbur Schramm antara lain:
a. Teori Peluru (The Bullet Theory of Communication)
Teori ini merupakan konsep awal sebagai efek komunikasi massa yang oleh para teoretisi komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodemic needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori harum hipodermik. Teori ini ditampilkan pada tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion from Mars”.
Pada tahun tersebut, Schramm mengemukakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya.
Namun dalam karya tulisnya yang diterbitkan pada awal tahun 1970-an, Schramm meminta kepada para peminatnya agar teori peluru komunikasi itu dianggap tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Pernyataan Schramm tentang pencabutan teorinya itu didukung oleh Paul F. Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab. Kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Adakalanya pula efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering pula khalayak yang dijadikan sasaran senang untuk ditembak.

b. Teori Komunis Soviet (Soviet Communist Theory)
Teori-teori komunikasi berlangsung secara berkesinambungan, artinya suatu teori yang digunakan sebagai landasan pemikiran dalam suatu penelitian atau dipakai sebagai pendekatan dalam menelaah suatu fenomena. Bisa merupakan teori lama yang ditampilkan seorang cendekiawan satu dekade sebelumnya, bahkan lebih lama daripada itu.
Tiga orang cendekiawan Amerika, yaitu Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm menerbitkan sebuah buku yang berjudul Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do pada tahun 1956. Buku tersebut mengupas empat buah sistem pers yang berlaku di berbagai negara di dunia, yakni Authoritarian Theory (abad 15-16), Liberitarian Theory (abad 17-18),, Soviet Communist Theory (Marxist) dan Social Responsibility Theory (abad ke-20).
Pada awalnya, keempat teori tersebut memang teori pers, namun kemudian seirama dengan perkembangan media massa yang meliputi radio siaran, televisi siaran, film teatrikal, dan lain-lain, maka teori tersebut menjadi teori media massa. Dengan kata lain, teori pers yang semula hanya mengenai pers dalam arti sempit, kini menjadi pengertian pers dalam arti luas, yang jika dikaitkan dengan kegiatannya, tidak hanya jurnalistik cetak tetapi juga jurnalis elektronik.
Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm merupakan tokoh pers dunia dan teori-teori pers yang mereka ciptakan menjadi sumber rujukan para praktisi, mahasiswa dan perguruan tinggi. Buku , Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do dimaksudkan untuk menjelaskan perkembangan kondisi pers dunia di masa lampau dan memasuki era pra- perang dingin antara Barat dan Timur.
Pentingnya kedudukan pers demi perdamaian dunia yang demokratis, PBB secara khusus membahas masalah kemerdekaan pers di Geneva, Swis 23 Maret 1948. Prinsip dasar konferensi tersebut adalah adanya pengakuan PBB terhadap kemerdekaan pers sebagai “hak dasar manusia”. Sedangkan Pasal 19 Deklarasi Hak Asasi Manusia menjelaskan pula bahwa setiap orang berhak dan bebas mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan pendapat dengan cara apapun tanpa memandang batas-batas.
Teori Komunis Soviet (Soviet Communist Theory) dikupas oleh Schramm dengan kacamata Amerika yang orientasinya lain untuk tidak mengatakan bertentangan. Dalam kupasannya tersebut, Schramm mencoba menyelusuri dari akarnya, yakni pemikiran Karl Marx melalui pertumbuhan di zaman Lenin dan Stalin. Seperti diketahui pemikiran Marx dipengaruhi oleh konsep dialektika dari Hegel, dimana kedua kekuatan yang bertentangan (tese dan antitese) mengubah perbedaannya menjadi sintese. Pada gilirannya, sintese ini menjadi suatu tese baru yang ditentang oleh aliran antitese baru yang kemudian menimbulkan sintese baru. Demikian seterusnya sepanjang sejarah.
Schramm mengatakan bahwa sumbangan besar dari Marx adalah penjungkirbalikkan dialektika Hegel. Jadi Marx membuat dialektikanya realistik, kebalikan dari idealistik. Dia menyatakan bahwa kondisi hidup yang bersifat material terutama cara manusia mengelola hidupnya dan jenis kehidupan yang ia kelola untuk menentukan idea manusia. Dengan kata lain, ekonomi, sistem kekuatan produktif dan hubungan produktif merupakan faktor sentral bagi kehidupan manusia, suatu fakta yang menentukan sifat kehidupan masyarakat.
Schramm juga berpendapat bahwa pengawasan terhadap media massa harus berpijak pada mereka yang memiliki fasilitas, sarana percetakan, stasiun siaran, dan lain-lain. Selama kelas kapitalis mengawasi fasilitas fisik ini, kelas buruh tidak akan mempunyai peran pada saluran-saluran komunikasi. Kelas buruh harus mempunyai saluran komunikasi sendiri. Demikian pula kaum buruh harus berpikir bahwa kebebasan pers yang sebenarnya tidak ada kecuali dalam masyarakat tanpa kelas, dimana kelas kerja telah merebut perlengkapan komunikasi dan tidak takut lagi akan pengawasan para pemilik borjuis.

C. KARYA-KARYA SCHRAMM
Sebagai penulis yang produktif, Wilbur Schramm telah berhasil menulis beberapa judul buku, antara lain:
1. Men, Messages and Media (1973).
2. Beginnings of Communication Study in America: A Personal Memoir (April 1997). Ditulis bersama Everett M. Rogers dan Steven H. Chaffee.
3. Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do. Ditulis bersama Theodore Peterson, dan Frederick S. Siebert.
4. Big Media, Little Media: Tools and Technologies for Instruction (Januari 1977).
5. The Science of Human Communication (1963).
6. Story of Human Communication: Cave Painting to Microchip (Januari 1988).
7. Television in the Lives of Our Children (Juni 1961).
8. Responsibility in Mass Communication, 3rd Edition (Januari 1980). Ditulis bersama William Rivers dan Clifford G. Christians.
9. The Process and Effects of Mass Communication (Revised) (Oktober 1971).
10. Communication And Change: The Last Ten Years – And The Next. Sebagai editor bersama Daniel Lerner.
11. International Encyclopedia of Communications (Maret 1989). Ditulis bersama Erik Barnouw, George Gerbner dan Et Al sebagai editor.
12. Messages: A Reader in Human Communication (1974).
13. Wilbur Schramm and the Beginnings of American Communication Theory: A History of Ideas (1988). Merupakan disertasi Ph.D. dari Universitas Iowa.

D. MASALAH PARADIGMA DALAM JURNALISME
Dalam Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do, Schramm dkk. Menjelaskan bahwa keberadaan media massa biasa disikapi dengan dua cara, pertama dipandang sebagai pembentuk (moulder) masyarakat, atau kedua sebagai cermin (mirror) yang memantulkan keadaan masyarakat. Yang pertama bertolak dari paradigma yang menempatkan media sebagai suatu instrumen yang memiliki daya yang kuat dalam mempengaruhi alam pikiran warga masyarakat. Posisi media semacam ini akan melihat keberadaan media massa sebagai faktor penting yang memiliki daya mempengaruhi sasarannya. Sejumlah ahli bahkan merumuskan bahwa setiap komunikasi dengan media massa pada dasarnya berpretensi untuk mengubah sasaran agar sesuai dengan kehendak komunikator.
Paradigma ini menempatkan komunikan sebagai obyek yang pasif, yang dapat diubah dan dibentuk oleh pihak komunikator. Media massa dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan komunikator. Kepentingan ini dapat diartikan secara luas, mulai dari misi keagamaan, ideologi, kekuasaan politik, sampai pragmatis ekonomi . Tradisi media massa di negara komunis dengan jelas dapat dilihat sebagai contoh soal media massa berdasarkan paradigma ini.
Dari uraian sebelumnya, maka dapat kita lihat bahwa Wilbur Schramm menggunakan penelitian empiris, misalnya dengan mendirikan institut penelitian komunikasi di sekolah-sekolah jurnalistik. Wilbur Schramm juga mengadakan survey terhadap tingkah laku murid-muridnya, misalnya dengan seminar mingguan yang dilakukan dirumahnya untuk mengontrol bagaimana perkembangan studi komunikasi yang diterapkan dalam sistem pengajaran. Oleh karena itu paradigma yang dianut oleh Wilbur Schramm adalah positivistik.
Wilbur Schramm menganut paradigma positivistik karena ia telah menemukan suatu hukum alam atau bidang studi baru dalam kehidupan manusia dimana bidang baru tersebut dapat digunakan untuk memprediksi dan mengontrol suatu kejadian atau peristiwa nantinya. Hal ini tertuang dalam contoh bahwa studi komunikasi yang didirikan oleh Wilbur Schramm pada saat terjadinya Perang Dunia ke-2 dimana pada saat itu komunikasi menjadi suatu hal yang sangat krusial untuk memahami masalah peperangan.
Selain itu komunikasi disini dilihat sebagai suatu pola yang sudah ada dan teratur dimana Wilbur Schramm mengkaji lebih dalam dan merumuskan kembali menjadi suatu kajian dan studi baru yang kompleks dan dapat dipelajari. Ditinjau dari penafsiran komunikasi yang didirikan oleh Wilbur Schramm maka komunikasi ini dapat dikatakan valid dikarenakan telah melalui beberapa penelitian, komunikasi juga merupakan penggabungan teori dan metode bukan hasil penafsiran dan pengertian individual saja, buktinya adalah komunikasi dapat dipastikan dan dapat dikaji sesuai dengan teori-teori yang berkaitan dengan komunikasi tersebut.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Wilbur Schramm adalah merupakan Administrative Research dimana teori dasar berdirinya komunikasi sifatnya universaldan bisa digunakan dimana-mana untuk menjelaskan suatu fenomena yang terjadi. Komunikasi yang didirikan oleh Wibur Schramm ini berasal dari kajian jurnalistik yang pernah ditekuni oleh Schramm, oleh karena itu pula lah metode yang digunakan Schramm adalah Administrative Research dimana Administrative Research mengkaji tentang media massa yang berguna dan fungsional bagi masyarakat. Hal ini juga dapat terlihat dari usaha Schramm saat pertama masuk dalam sekolah jurnalistik adalah berusaha untuk menciptakan saluran-saluran dan media yang dapat membantu proses, pengenalan dan pengembangan suatu bidang baru yang ditemukannya yang disebut sebagai komunikasi.
Dengan berkembangnya kajian tentang studi komunikasi maka dapat dinilai bahwa ilmu pengetahuan yang didirikan Schramm merupakan ilmu yang bebas nilai, netral dan obyektif. Oleh karena itu Wilbur Schramm disebut juga sebagai Pendiri Bidang Komunikasi dengan menggunakan pendekatan Administrative Research, mengacu pada paradigma Positivistik.

Wilbur Schramm

Wilbur Schramm

Karakteristik Komedi Inggris

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , on April 20, 2009 by enikkirei

1. Penokohan (karakter tokoh)
Umumnya film komedi Inggris menampilkan penokohan yang kuat dan memiliki kekhasan tersendiri. Ini dapat dilihat pada karakter Mr. Bean (Rowan Atkinson) yang begitu kuat, bahkan menjadi legenda hidup di dunia komedi internasional. Konsistensi karakter dan kebiasaan khusus peran Bean inilah yang membuat Atkinson selalu diidentikkan dengan tokoh Mr. Bean, meskipun dalam kehidupan sehari-hari sifatnya sangat bertolak belakang dengan karakter yang menciptakan trademark-nya tersebut.
Begitu pula dengan tokoh-tokoh dalam film Death at a Funeral (2007). Film yang bercerita tentang kekacauan di sebuah upacara pemakaman ini didukung oleh akting pemainnya yang masing-masing membangun penokohan yang kuat dan khas.
Aspek karakter/penokohan inilah yang menjadi tujuan pada film komedi Inggris secara umum. Titik dan penokohan memiliki penonjolan yang lebih daripada ending cerita.

2. Alur/plot cerita
Alur cerita biasanya susah ditangkap. Hal ini disebabkan oleh kesederhanaan ide cerita, namun disajikan dengan visualisasi yang tepat. Kadang-kadang juga memecah plot menjadi beberapa bagian (subplot), sebagaimana yang nampak pada film Mr. Bean.

3. Visualisasi
Pada umumnya film komedi Inggris menonjolkan visualisasi yang ceria, sesuai dengan watak orang Inggris pada umumnya denga didukung kualitas sinematografi yang baik. Nuansa psikologis yang kuat terkadang juga mewarnai visualisasinya, sebagaimana yang nampak pada film Human Traffic (1999).

4. Kekhasan
Komedi Inggris memuat citarasa humor yang gelap, kering, tajam, brilian, satire, berani (sedikit kasar), dan kocak yang tergambar dalam setiap dialog-dialog cerdasnya.
Ketika komedi romantis ala Hollywood meletakkan tujuan pada ending, film komedi Inggris justru meletakkan tujuan pada berbagai titik dan karakter. Karena semenjak awal telah tersebutkan beberapa karakter yang memiliki cerita dan permasalahan tersendiri, dengan benang merah yang menghubungkan masing masing yang pada akhirnya tetap memiliki ending sendiri sendiri, baik itu happy ending ataupun ending yang menggantung.
Ciri khas komedi Inggris lainnya yang menjadi kekuatan sebuah film adalah totalitas dalam tata artistik dan koreografi.
Selain itu, film komedi Inggris lebih bersifat drama-komedi, berbeda dengan Hollywood yang lebih beraliran romantic-komedi. Unsur dramanya juga disajikan dalam bentuk yang berbeda dengan drama Hollywood, lebih mengedepankan fragmen-fragmen cerita yang menunjukkan sekelumit permasalahan hidup serta digambarkan dengan detail yang bagus.

5. Komunikasi
Dialog-dialognya cerdas (ex.Human Traffic), penyampaian secara implisit sehingga kadang penonton yang belum terbiasa menonton komedi khas Inggris akan heran mencari dimana letak kelucuannya. Selain itu, dialognya juga cenderung kasar, satir dan menarik.

Rowan Atkinson dalam Mr. Bean

Rowan Atkinson dalam Mr. Bean

Dongeng Filsafat Ludwig Wittgenstein

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on April 20, 2009 by enikkirei

Ini merupakan cerita perkenalan seorang pemuda Austria, Ludwig Wittgenstein dengan filsafat, yang kisahnya kini menjadi dongeng filsafat. Perkenalan ini bermula ketika ia tengah menimba ilmu teknik mesin di Manchester University, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh sebuah pertanyaan, “Apakah angka itu?” Pertanyaan ini langsung memesona dirinya dan ia anggap jauh lebih menarik daripada apa yang selama ini ia temukan dalam bidang teknik mesin. Namun demikian ia pun menyadari bahwa sesungguhnya pertanyaan tersebut pun sangat sukar diperoleh jawabannya.

Latar Belakang Keluarga Wittgenstein

Wittgenstein merupakan seorang mahasiswa teknik mesin Manchester University yang berasal dari keluarga pengusaha industri baja yang kaya-raya di Wina, Austria. Ia melewatkan masa kecil dalam sebuah keluarga kelas atas di akhir periode Habsburg. Namun demikian, keluarga Wittgenstein bukan keluarga bahagia. Kedua kakak lelakinya tewas bunuh diri, akibatnya Wittgenstein selalu merasa tertekan dan dihantui oleh keinginan bunuh diri seumur hidupnya.

Wittgenstein dan Pengaruh Bertrand Russel

Pertanyaan “Apakah angka itu?” berhasil membawa Wittgenstein meninggalkan kampusnya dan pergi ke Cambridge menemui Bertrand Russel, seorang matematikawan yang populer pada masa itu. Russel menyuruh Wittgenstein pergi dan menulis sesuatu tentang pertanyaan tersebut. Ia sangat senang tatkala Wittgenstein kembali beberapa bulan kemudian dengan membawa essainya, lantas meminta Wittgenstein untuk menjadi seorang filsuf. Sesuai saran Russel, Wittgenstein pun resmi meninggalkan Manchester dan tinggal di Cambridge untuk belajar di bawah bimbingan Russel.
Dalam perjalanan filsafat Wittgenstein, pengaruh Russel sangat kuat dan berhasil memotivasi Wittgenstein untuk serius menekuni berbagai masalah dan isu filsafat bahasa yang tengah dikembangkan oleh Frege dan Russel. Aliran ini berusaha keras mencari jawaban dari pertanyaan, “Apa yang membuat bahasa menjadi bermakna?” Biasanya para filsuf bahasa menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkan, misalnya: mengapa kata ‘kursi’ dan ‘meja’ mempunyai arti sebagaimana yang dimaksudkan.

Makna ‘Kata-Kata’ Wittgenstein

Wittgenstein muda mengembangkan filsafatnya tentang bagaimana kata-kata memperoleh maknanya. Menurut pemuda Austria tersebut, bahasa manusia menjadi bermakna karena mewakili kenyataan seperti gambar. Sebuah kalimat (dalam bahasa filsuf biasa disebut proporsi) memiliki makna jika kalimat tersebut menggambarkan sebuah hubungan yang mungkin. Inilah yang dimaksud teori makna gambar. Akhirnya terbitlah buku Tractatus Logico-philosophicus pada 1920 – salah satu buku filsafat yang paling sukar dimengerti dalam sejarah filsafat – yang berhasil ditulis Wittgenstein dalam parit perlindungan saat berkecamuk Perang Dunia I. Ketika itu ia menjadi sukarelawan dalam tentara Austria.

Filsuf Muda yang Aneh dan Anggapan Kegilaan Para Filsuf

Wittgenstein merupakan salah satu filsuf yang paling populer dan eksentrik. Ia kaya raya, namun semua uangnya ia sumbangkan dan hidupnya ia habiskan di sebuah pondok di Norwegia. Ia sering terlihat sedang makan kue pai di bangku bioskop barisan terdepan.
Filsuf muda ini juga beranggapan bahwa sebagian orang berpikir bahwa terdapat sebuah makna dasar di dalam kata-kata yang punya makna berbeda. Menurutnya, ini adalah prosedur yang sudah salah sejak awal dalam memandang permasalahan ini, kesalahan khas para filsuf.
Menurut Wittgenstein, inti masalah dalam filsafat bukan berasal dari rasa ingin tahu, melainkan keterpukauan kecerdasan melalui perangkat bahasa. Para filsuf lupa bahwa kata-kata memiliki banyak makna, sehingga sebagaimana Aristoteles, mereka akhirnya mencari esensi metafisis dari konsep tertentu. Kecenderungan inilah yang oleh Wittgenstein disebut sebagai kegilaan. Para filsuf harus segera disembuhkan bila mereka ingin melihat dunia dengan cara yang benar. Pendapatnya bahwa filsuf gila dan bahwa tidak ada apa-apa di balik kehidupan sehari-hari membuat Wittgenstein menjadi layaknya seorang filistin.

Tipe Lain Atom dan Bahasa yang Tanpa Makna

Teori makna gambar menyatakan bahwa setiap proposisi terdiri atas beberapa elemen sederhana yang berfungsi layaknya gambar sederhana. Setiap elemen bahasa ini mengacu pada sebuah elemen sederhana lain yang sesuai atau ‘atom’ di dunia. Terkadang metafisika awal Wittgenstein disebut sebagai ‘atomisme logis’ karena mengetengahkan pernyataan “agar bahasa mungkin dimengerti, maka dunia harus tersusun dari ‘atom’ dasar yang sederhana”.
Mayoritas filsuf setelah Wittgenstein tak mampu meyakini semua itu. Kebingungan tersebut berlandaskan dari pertanyaan, “Apakah atom misterius tersebut?” atom di sini berbeda dengan atom dalam definisi Fisika, karena kebanyakan dari ‘proporsi’ kita mengacu pada benda sehari-hari, seperti kursi.
Jika kalimat “Ini adalah sebuah kursi” berfungsi seperti sebuah gambar, bagaimana kita harus mengartikan elemen paling sederhana dari kalimat tersebut – mungkin semisal rembesan warna dalam lukisan impresionis?
Parahnya, Wittgenstein ternyata juga mengakui bahwa menurut teori makna yang dicetuskannya, mayoritas dari kata-kata yang kita ucapkan tak bermakna karena tidak menggambarkan apa pun. Hal ini tak hanya tepat dari perspektif lingua etis dan agama, tetapi juga dari lingua filsafat.

Pertemuan dengan Sang Perevisi

Perjalanan kereta api ekonomi bersama seorang ekonom berkebangsaan Italia, Pierro Sraffa telah mengubah pandangan Wittgenstein tentang teori gambar yang ia cetuskan. Sraffa telah menunjukkan pada Wittgenstein bahwa bahasa merupakan bagian dari kebudayaan dan bukan hanya sekedar proposisi. Akhirnya filsuf muda ini pun meyakini bahwa filsafat manapun harus berangkat dari suatu keyakinan bahwa makna manusia bukan sekedar relasi antara metafisis bahasa dan dunia, melainkan sebuah produk kebudayaan dan masyarakat.
Wittgenstein mulai mempertimbangkan kembali filsafat yang ia kemukakan. Ia menyadari bahwa bagi seorang anak muda seperti dirinya, pandangan filsafatnya bisa dikatakan aneh.

Sebuah Tangga Filsafat

Wittgenstein menerima bahwa filsafat yang dicetuskannya ternyata tak ada maknanya. Ia menyatakan hal tersebut pada akhir karyanya, Tractatus, bahwa filsafatnya merupakan omong kosong yang berguna, sebuah tangga yang harus anda buang untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Dengan demikian dapat diartikan bahwa Wittgenstein muda agak mirip seorang neoplatonis mistis.

Ludwig Wittgenstein

Ludwig Wittgenstein

Hello world!

Posted in Uncategorized on April 20, 2009 by enikkirei

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!