Pengumpan:
Tulisan
Komentar

kamu berdiri seolah menanti
kalau-kalau isi kepalaku tumpah, meruah di depanmu dan berbau busuk
kamu cari cacing-cacing yang mengisi basi
lokus sesak bekas pacar-pacarku

kamu tunggu nyanyian naga bersalin
bunyinya seperti degup jantungmu, satu-satu
kamu raba isinya juga, jangan-jangan memang kosong melompong
lokus sempit bekas pacar-pacarmu

sebutlah kita
sebuah dimensi dari kepingan jiwa, esa
melayang bebas seperti gunung es

aku, kamu dan bekas pacar-pacar kita
terkapling dalam derajat sinus yang sama besar
dunia telah berbeda

Malang, April 8th 2010
Gludug, Gelap, mau hujan

AKHIR

inilah saatnya berpisah
sebelum kau salah memutuskan, aku tak pernah takut itu
takut orang lain memasuki hatimu
atau berpura-pura bersahabat denganku

aku pergi bukan karena tak bisa membunuhmu, melainkan karena bisa

kau selalu bicara dramatis, berusaha menghadang jalanku
seolah ingin sembunyi dari ketidakmampuanmu
kau berusaha menghentikanku
semua keyakinanku, seluruh idealismeku

aku pergi bukan karena tak bisa membunuhmu, melainkan karena bisa

kau memang nyata dan aku mencintaimu
kesempatanmu untuk memikirkan seberapa lemah diriku
kemudian memukulku sampai jatuh
dan tak pernah berpikir apa sesungguhnya pilihan yang akan kurengkuh

aku pergi bukan karena tak bisa membunuhmu, melainkan karena bisa
sungguh karena bisa

di bawah keseharian mentari
Malang, March 16th 2010

DIMANAKAH AKU?

dimana posisiku?
aku cinta sejatimu atau cuma gundukan di jalan?
masa itu sangat berarti, entah bagimu

seperti masa lalu,
kurasa itu pertama kalinya kulihat kau tersenyum karena aku
aku mulai berpikir, aku lelah bekerja dengan cara orang lain
dan aku selalu dengan cara orang lain

tinggalkanmu ternyata tak sesakit yang kukira
tapi meninggalkan mereka, ya!

kita serupa, kau dan aku
dan kita tidak sama
mungkinkah kita bisa sepasang, seperti sisi berlawanan uang logam?

di bawah keseharian mentari
Malang, March 16th 2010

OEDIPUS

di perlintasan masa lalu dan masa kiniku
lokus ini, batang hidungmu hadir di pelupuk
kau tak pernah cerita soal illuminati, sekalipun dalam buku harian

aku merindukanmu
mengapa tak boleh kita gunakan kekuatan itu sekali ini saja?
mengapa kau tak bisa tinggal?
waktu tlah tercuri dari kita
namun aku jua tlah mencurinya dan harus kukembalikan

tiba-tiba aku merasa sendirian………

di bawah keseharian mentari
Malang, March 16th 2010

Konsep isi
Content/isi haruslah masalah tema/isyu-isyu yang paling actual, sebab kalau kejadiannya sudah lampau/out of date, maka karikatur akan kehilangan efektivitas dan daya gunanya. Ibarat sayur sop yang sudah basi, di samping kehilangan nutrisi dan tidak enak dimakan, tapi mungkin juga bisa beracun membahayakan kesehatan.
Semua persoalan hidup, baik lingkup kecil (keluarga) hingga yang paling besar (internasional), berpeluang untuk jadi tema karikatur, sepanjang itu bermanfaat bagi banyak orang, asal bukan gossip-gosip murahan yang tak berdasar nalar/akal sehat, apalagi provokasi, fitnah dan semacamnya.

Konsep bentuk visual
Dari bentuk/wujud yang kasat mata inilah pesan karikatur dapat tersampaikan pada pembacanya. Untuk itulah seorang karikaturis sangat mengandalkan kemampuan menggambar nya yang prima. Gambar karikatur biasanya disajikan/diungkapkan melewati pengubahan bentuk. Ini amat lazim terjadi.
Beberapa metoda pengubahan/pengolahan bentuk, antara lain:
- Distorsi — mengubah bentuk secara ilusi optis
- Deformasi — ‘merusak’ bentuk
- Stilisasi — menyederhanakan bentuk
- Dramatisasi — mengungkapkan bentuk secara dramatis, bisa membuat pengekstriman, exaggeration (melebih-lebihkan bentuk)
- Simbolisasi — memanfaatkan bentuk sebagai simbol-simbol
- Metaforik — memanfaatkan bentuk sebagai kiasan
- Semiotika — menggunakan bahasa tanda (pesan singkat dan ringkas seperti pada rambu-rambu lalu lintas, misalnya)
- Personifikasi — menggunakan benda-benda mati yang berperan sebagai layaknya manusia, atau sebaliknya.
- Fabel — sda, benda-benda matinya diganti dengan binatang.
- Figure — penokohan, setiap karya karikatur biasanya mengekspose suatu tokoh, ini bisa manusia, ataupun nonmanusia. Bahkan pengertian/konsep yang abstrak (misalkan pendidikan atau ketidakpedulian) bisa diungkap menjadi tokoh yang riel/nyata.
- Naïve — pengunkapan tokoh-tokoh dengan kesan sok bodoh, bloon, naïf atau kekanak-kanakan dan segala bentuk kejenakaan.

Konsep apropriasi/kepantasan
Kita harus memahami bahwa karya yang kita buat harus siap bersentuhan, bahkan mungkin berinteraksi dengan public. Kita akan berhadapan dengan pribadi-probadi atau komunitas tertentu yang harus kita pahami karakternya. Kalau kita mengkritik, konsekwensinya kita harus siap dengan reaksi siterkritik. Untuk itu, parameternya adalah sejumlah pertanyaan kesiapan yang harus anda jawab secara jujur, dan hanya anda sendiri yang tahu jawabannya:
- Seberapa jauh akibat-akibat kritik itu bisa anda prediksi?
- Seberapa cakap/siap mental anda menangkis serangan-serangan bila ada reaksi yang berbalik menuntut kita?
- Seberapa besar nyali yang mendorong kita untuk berani mengungkap ketidakberesan yang terjadi?
- Seberapa tajam sensitivitas anda pada dimensi ruang dan waktu?
- Seberapa obyektif interpretasi anda terhadap suatu persoalan actual yang akan anda ekspose, jangan-jangan ada hanya dikuasai perasaan sentiment pribadi, kecemburuan atau bahkan paranoid?

Karikatur Pembagian BLT

Karikatur Pembagian BLT

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.