Konsep isi
Content/isi haruslah masalah tema/isyu-isyu yang paling actual, sebab kalau kejadiannya sudah lampau/out of date, maka karikatur akan kehilangan efektivitas dan daya gunanya. Ibarat sayur sop yang sudah basi, di samping kehilangan nutrisi dan tidak enak dimakan, tapi mungkin juga bisa beracun membahayakan kesehatan.
Semua persoalan hidup, baik lingkup kecil (keluarga) hingga yang paling besar (internasional), berpeluang untuk jadi tema karikatur, sepanjang itu bermanfaat bagi banyak orang, asal bukan gossip-gosip murahan yang tak berdasar nalar/akal sehat, apalagi provokasi, fitnah dan semacamnya.
Konsep bentuk visual
Dari bentuk/wujud yang kasat mata inilah pesan karikatur dapat tersampaikan pada pembacanya. Untuk itulah seorang karikaturis sangat mengandalkan kemampuan menggambar nya yang prima. Gambar karikatur biasanya disajikan/diungkapkan melewati pengubahan bentuk. Ini amat lazim terjadi.
Beberapa metoda pengubahan/pengolahan bentuk, antara lain:
- Distorsi — mengubah bentuk secara ilusi optis
- Deformasi — ‘merusak’ bentuk
- Stilisasi — menyederhanakan bentuk
- Dramatisasi — mengungkapkan bentuk secara dramatis, bisa membuat pengekstriman, exaggeration (melebih-lebihkan bentuk)
- Simbolisasi — memanfaatkan bentuk sebagai simbol-simbol
- Metaforik — memanfaatkan bentuk sebagai kiasan
- Semiotika — menggunakan bahasa tanda (pesan singkat dan ringkas seperti pada rambu-rambu lalu lintas, misalnya)
- Personifikasi — menggunakan benda-benda mati yang berperan sebagai layaknya manusia, atau sebaliknya.
- Fabel — sda, benda-benda matinya diganti dengan binatang.
- Figure — penokohan, setiap karya karikatur biasanya mengekspose suatu tokoh, ini bisa manusia, ataupun nonmanusia. Bahkan pengertian/konsep yang abstrak (misalkan pendidikan atau ketidakpedulian) bisa diungkap menjadi tokoh yang riel/nyata.
- Naïve — pengunkapan tokoh-tokoh dengan kesan sok bodoh, bloon, naïf atau kekanak-kanakan dan segala bentuk kejenakaan.
Konsep apropriasi/kepantasan
Kita harus memahami bahwa karya yang kita buat harus siap bersentuhan, bahkan mungkin berinteraksi dengan public. Kita akan berhadapan dengan pribadi-probadi atau komunitas tertentu yang harus kita pahami karakternya. Kalau kita mengkritik, konsekwensinya kita harus siap dengan reaksi siterkritik. Untuk itu, parameternya adalah sejumlah pertanyaan kesiapan yang harus anda jawab secara jujur, dan hanya anda sendiri yang tahu jawabannya:
- Seberapa jauh akibat-akibat kritik itu bisa anda prediksi?
- Seberapa cakap/siap mental anda menangkis serangan-serangan bila ada reaksi yang berbalik menuntut kita?
- Seberapa besar nyali yang mendorong kita untuk berani mengungkap ketidakberesan yang terjadi?
- Seberapa tajam sensitivitas anda pada dimensi ruang dan waktu?
- Seberapa obyektif interpretasi anda terhadap suatu persoalan actual yang akan anda ekspose, jangan-jangan ada hanya dikuasai perasaan sentiment pribadi, kecemburuan atau bahkan paranoid?

Karikatur Pembagian BLT